Highlights
- Iran dan Oman sepakat membagi pendapatan dari pelayaran yang melintasi Selat Hormuz, menurut IRGC, lewat unggahan dari Bull Theory.
- Kesepakatan ini muncul setelah berbulan-bulan negosiasi atas jalur air yang praktis tertutup sejak pecahnya konflik antara Iran, Israel, dan AS awal tahun ini.
- Laporan sebelumnya menyebut skema dengan jalur pelayaran masuk dan keluar terpisah serta biaya transit sekitar $2 juta per kapal.
- Selat Hormuz menampung sekitar seperlima arus minyak global, membuat penyelesaian apa pun langsung relevan bagi harga energi dan pasar aset berisiko secara lebih luas.
Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan untuk membagi pendapatan dari lalu lintas pelayaran yang melintasi Selat Hormuz, menurut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dilaporkan Bull Theory. Perkembangan ini menjadi puncak dari negosiasi berbulan-bulan atas salah satu koridor pelayaran minyak paling krusial di dunia, yang praktis tertutup dalam rentang waktu yang panjang selama konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang dimulai awal tahun ini.
Berbulan-Bulan Negosiasi yang Alot
Jalan menuju titik ini sama sekali tidak mulus. CNN melaporkan awal Agustus bahwa Iran menuntut konsesi dari AS bahkan ketika negosiasinya dengan Oman soal Hormuz semakin mendekati kesepakatan, sementara Al Jazeera menggambarkan negosiator Oman dan Iran menyebut pembicaraan berjalan “positif dan konstruktif”, dengan Menteri Luar Negeri Iran menyatakan kedua pihak “sangat dekat” dengan kesepakatan. Skema yang dibahas dilaporkan melibatkan lalu lintas kapal masuk yang dialihkan lewat jalur utara di perairan teritorial Iran, sementara lalu lintas keluar melewati jalur selatan di perairan Oman, disertai usulan biaya transit sekitar $2 juta per kapal yang akan dibagi antara kedua negara.
Mengapa Selat Ini Masih Penting bagi Pasar Global
Selat Hormuz menampung porsi besar perdagangan minyak lewat laut dunia, dan penutupan sebagiannya sejak pecahnya konflik telah menjadi sumber volatilitas yang terus-menerus di pasar energi sepanjang tahun ini. Kesepakatan bagi hasil yang tahan lama antara Iran dan Oman akan menjadi langkah konkret menuju pemulihan arus pelayaran yang dapat diprediksi lewat koridor ini — sesuatu yang relevansinya jauh melampaui politik regional: gangguan berkepanjangan pada lalu lintas Hormuz berulang kali memicu lonjakan harga minyak yang merambat ke ekspektasi inflasi, kalkulasi kebijakan bank sentral, dan selera risiko di pasar saham maupun kripto.
Data yang Dilaporkan IRGC, Bukan Pihak Netral
Perlu dicatat bahwa klaim spesifik soal kesepakatan ini bersumber dari IRGC, pihak yang terlibat langsung dalam konflik yang mendasarinya, bukan verifikator independen — dan juru bicara IRGC Hossein Mohebbi sebelumnya menyatakan bahwa mekanisme pembukaan kembali Selat ini terpisah dari jalur negosiasi Iran-Oman yang lebih luas. Perbedaan ini menjadi pengingat bahwa detail lengkap soal apa yang sebenarnya disepakati, dan seberapa tahan lama kesepakatan itu dalam praktiknya, kemungkinan masih membutuhkan pelaporan independen lebih lanjut untuk dikonfirmasi sepenuhnya.
Baca juga: Bessent Janji “Isolasi” Iran, China Peringatkan Dampak Global
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Sinyal paling konkret dalam waktu dekat adalah apakah volume pelayaran dan tarif asuransi kapal yang melintasi Selat ini benar-benar berubah merespons kesepakatan yang dilaporkan ini, karena data lalu lintas tanker dan tarif pengangkutan cenderung bergerak lebih cepat ketimbang pernyataan resmi dalam mengonfirmasi apakah sebuah kesepakatan maritim benar-benar bertahan. Harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator awal apakah pasar memperlakukan ini sebagai langkah de-eskalasi yang kredibel atau tetap memandangnya dengan kehati-hatian yang sama seperti yang layak diberikan pada pernyataan-pernyataan IRGC sebelumnya.
