Highlights
- Huawei mengajukan proposal ke pemerintah Mesir untuk membangun pusat data AI dalam 12 bulan, mengekspor 1.408 chip Ascend 950 untuk cloud training.
- Rencana ini juga mencakup tambahan 600 chip Ascend 950 atau 910B untuk dua klaster inference, menurut PANews, mengutip Bloomberg.
- Departemen Luar Negeri AS menghubungi Nvidia, AMD, dan Microsoft untuk membentuk konsorsium AS tandingan.
- Persaingan ini menjadi hadapan langsung AS-China pertama kalinya untuk satu tender infrastruktur AI pemerintah.
Huawei mengajukan tawaran kepada pemerintah Mesir untuk membangun pusat data AI dalam kerangka waktu 12 bulan, dengan mengekspor 1.408 chip Ascend 950 kelas atas untuk platform cloud training, menurut laporan PANews yang mengutip Bloomberg. Tawaran ini langsung memicu respons cepat dari AS: Departemen Luar Negeri menghubungi Nvidia, AMD, dan Microsoft untuk membahas pembentukan konsorsium tandingan guna mengajukan penawaran balasan.
Apa Sebenarnya yang Ditawarkan Huawei
Selain 1.408 chip Ascend 950 yang dialokasikan untuk cloud training, proposal Huawei juga mencakup tambahan 600 chip Ascend 950 atau 910B untuk menjalankan dua klaster inference terpisah — memberi Kairo paket infrastruktur AI yang lengkap, bukan sekadar kapasitas training mentah. Jangka waktu pembangunan 12 bulan ini terbilang agresif untuk proyek seskala ini, mengindikasikan Huawei memprioritaskan kecepatan agar bisa mengunci kesepakatan sebelum Washington sempat menyusun tandingan yang kredibel. Jika Mesir menerima proposal China ini, Huawei akan menjadi penyedia infrastruktur AI utama bagi ekonomi terbesar kedua di Afrika, sekaligus memberi perusahaan itu pijakan berarti di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara — wilayah yang selama ini didominasi AS lewat proyek pusat data AI yang lebih menguntungkan di UEA dan Arab Saudi.
Upaya Washington Merespons Cepat
Langkah Departemen Luar Negeri AS menghubungi Nvidia, AMD, dan Microsoft menunjukkan betapa seriusnya Washington memandang satu keputusan pengadaan pemerintah ini sebagai uji kasus bagi diplomasi ekspor chip yang lebih luas. Namun Microsoft menolak berkomentar soal pendekatan tersebut, sementara Nvidia dan AMD tidak merespons permintaan komentar — sinyal awal bahwa membentuk konsorsium AS yang solid mungkin tidak semudah yang dibayangkan, sekalipun didukung Departemen Luar Negeri. Episode ini menggambarkan dinamika yang lebih luas di pasar berkembang: pembatasan ekspor chip AS terhadap China justru mendorong Huawei mengejar jenis kesepakatan infrastruktur AI antar-pemerintah di Afrika dan Timur Tengah yang selama ini dianggap wilayah aman bagi Nvidia dan AMD.
Baca juga: China Tolak Desakan AS untuk Isolasi Iran, Bikin Rumit Upaya Sanksi
Mengapa Ini Penting bagi Pasar
Ini lebih dari sekadar cerita infrastruktur regional — ini adalah uji nyata apakah kontrol ekspor chip AS benar-benar membendung ambisi AI global Huawei, atau justru sekadar mengalihkannya ke pasar yang kurang diperhatikan Washington. Bagi pemegang saham Nvidia dan AMD, kehilangan tender pemerintah bergengsi ke tangan Huawei akan menjadi pukulan reputasi dalam narasi dominasi chip AI Amerika yang lebih besar, meski pendapatan langsung yang dipertaruhkan relatif kecil dibanding bisnis inti mereka di AS dan negara-negara Teluk. Bagi Mesir, keputusan ini mencerminkan pertaruhan yang nyata antara mempererat hubungan dengan penyedia teknologi China dan menjaga akses ke ekosistem AI Barat beserta modal yang menyertainya.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Sinyal paling konkret yang perlu dipantau adalah apakah tawaran gabungan resmi dari Nvidia, AMD, dan Microsoft benar-benar terwujud, mengingat respons awal yang dingin seperti dilaporkan Bloomberg, serta seberapa cepat Kairo bergerak menuju keputusan mengingat linimasa agresif 12 bulan yang ditawarkan Huawei. Pemenang akhir dari salah satu pihak akan menjadi preseden penting bagi bagaimana pemerintah pasar berkembang lainnya menavigasi tender infrastruktur AI serupa di tengah tarik-menarik Washington dan Beijing.
