Seorang peneliti keamanan yang selama hampir dua tahun diam-diam menyusup ke infrastruktur peretasan Korea Utara akhirnya mengungkap skala sebenarnya dari operasi tersebut: 1.640 perusahaan terbobol di 57 negara, termasuk raksasa crypto Coinbase dan Uniswap Labs. Vangelis Stykas, chief technology officer di firma keamanan siber Kumio, berhasil mendapatkan akses ke server command-and-control kelompok tersebut, dan dalam beberapa kasus bahkan workstation, kanal Slack, serta server Discord milik para peretas sendiri, setelah mereka tampaknya terinfeksi malware buatan sendiri.

Stykas mempertahankan akses tersebut selama 22 bulan sebelum memaparkan temuannya di konferensi keamanan Black Hat di Las Vegas bulan ini. Dari 1.640 perusahaan yang ditemukannya memiliki bukti kompromi, ia menyebut 700 hingga 800 di antaranya mengalami intrusi yang cukup serius hingga menimbulkan kerugian nyata — bukan sekadar akses jaringan yang superfisial.

Researcher Infiltrated North Korea's Hackers, Found Coinbase and Uniswap Among 1,640 Victims
Image via @WuBlockchain on X

Tawaran Kerja Palsu sebagai Pintu Masuk

Vektor serangan utamanya, sebuah kampanye yang oleh para peneliti disebut Contagious Interview dan telah dilacak Microsoft sejak sedini 2022, mengandalkan rekayasa sosial ketimbang eksploitasi canggih. Para operator memancing developer software dan kontraktor dengan tawaran kerja palsu, lalu meminta target menyelesaikan apa yang tampak seperti tes coding rutin — program yang diam-diam memasang malware begitu dijalankan. Teknik ini terbukti efektif justru karena menyasar momen ketika kewaspadaan sedang lengah: developer yang sedang mengevaluasi peluang kerja, bukan yang sedang menjaga sebuah jaringan.

Apa Saja yang Berhasil Diraih Peretas

Menurut Stykas, level akses yang diperoleh bervariasi tergantung target, namun kerap jauh melampaui sekadar pijakan awal. Di berbagai kasus, para penyerang mendapatkan akses ke seluruh perusahaan, akses root ke server, hingga akses root ke infrastruktur AWS. Khusus untuk perusahaan crypto, itu termasuk private key dan akses langsung ke blockchain — jenis kompromi yang bisa langsung berujung pada pencurian dana, bukan sekadar pencurian data.

Baca juga: Serangan Fisik Crypto Rugikan Korban $30 Juta di H1 2026, Prancis Terparah

Daftar korban yang disebutkan namanya — yang juga mencakup Boston Children's Hospital dan produsen smartphone asal China, OPPO — menegaskan bahwa kampanye ini tidak pernah terbatas pada perusahaan crypto saja, meski perusahaan crypto tampaknya diperlakukan sebagai target bernilai tinggi mengingat jalur langsung dari akses server menuju aset on-chain. Kelompok peretas yang terafiliasi negara Korea Utara telah lama dikaitkan dengan pencurian crypto yang digunakan untuk mendanai program persenjataan rezim tersebut, dan temuan Stykas menunjukkan jejak sesungguhnya dari kampanye ini jauh lebih besar, dan jauh lebih berhasil, dibanding yang pernah terdokumentasi sebelumnya.