Coinbase melaporkan pendapatan kuartal kedua sebesar $1,22 miliar, turun 14% dari kuartal sebelumnya dan di bawah ekspektasi Wall Street sebesar $1,29 miliar, disertai rugi bersih $359 juta. Saham perusahaan turun sekitar 5% dalam perdagangan after-hours usai laporan ini rilis, seiring penurunan aktivitas trading mengimbangi pertumbuhan di bisnis subscription, stablecoin, dan lending exchange tersebut.

Pendapatan transaksi tercatat $599 juta, di bawah proyeksi analis sebesar $628 juta, karena volume trading spot kripto turun lebih dari 20% dari kuartal sebelumnya. Pendapatan subscription dan layanan bertahan lebih baik di angka $555 juta, kini menyumbang 48% dari pendapatan bersih, meski masih di bawah kisaran panduan Coinbase sebesar $565 juta hingga $645 juta. Pendapatan stablecoin menyumbang $292 juta pada kuartal tersebut.

a screen shot of a stock chart on a computer
Photo by Behnam Norouzi on Unsplash

Pangsa Market Tumbuh Meski Volume Turun

Meski aktivitas trading keseluruhan menurun, Coinbase mengatakan mereka meraih pangsa rekor 10,3% dari volume trading spot kripto, menandai kuartal ketiga berturut-turut dengan kenaikan pangsa market. Yang menarik, trading di luar Bitcoin menyumbang 88% dari pendapatan bersih aktivitas spot, sebuah tanda bahwa bisnis exchange ini kini kurang bergantung pada pergerakan harga khusus Bitcoin dibandingkan siklus sebelumnya.

Operasi stablecoin dan lending perusahaan juga berkembang. Rata-rata kepemilikan USDC di platform mencapai rekor $20 miliar, lebih dari 30% dari total USDC yang beredar, sementara rata-rata saldo borrow and lend naik menjadi $1,49 miliar, naik sekitar $1 miliar dari tahun sebelumnya. Prediction market muncul sebagai lini pertumbuhan yang menonjol, dengan pendapatan naik 106% secara kuartalan dan kini melampaui run rate tahunan $100 juta.

Neraca Keuangan dan Buyback

Coinbase mengakhiri kuartal dengan $8,6 miliar dalam kas dan setara kas. Perusahaan membeli kembali 814.000 saham Class A selama kuartal tersebut, membawa total buyback sepanjang tahun menjadi $1,2 miliar, meski mencatat rugi bersih pada periode ini.

CEO Brian Armstrong membingkai hasil ini sebagai bukti strategi diversifikasi yang lebih luas, dengan mengatakan “Coinbase bukan lagi sekadar taruhan pada harga Bitcoin” dan bahwa “seluruh layanan finansial sedang diperbarui oleh teknologi kripto.” Angka-angka kuartal ini menggambarkan ketegangan dalam pernyataan tersebut: pendapatan trading, yang masih menjadi lini terbesar Coinbase, tetap sangat sensitif terhadap ayunan aktivitas market, meski bisnis baru seperti stablecoin, lending, dan prediction market tumbuh cukup cepat untuk meredam dampaknya.

Baca juga: Strategy Catat Rugi $8,2 Miliar di Q2 Akibat Markdown Bitcoin