Poin Utama

  • Pendiri Binance, Changpeng "CZ" Zhao, mengatakan Bitcoin bisa menjadi lebih penting daripada emas sesegera siklus bull run berikutnya.
  • Kapitalisasi pasar emas masih sekitar 10 kali lebih besar daripada Bitcoin, menurut estimasi CZ sendiri.
  • CZ membingkai kesenjangan ini sebagai persoalan institusional, bukan teknis: pemerintah memiliki sistem berusia puluhan tahun yang dibangun untuk menilai dan menyimpan emas batangan.
  • Ia juga memprediksi konvergensi kripto dan AI kemungkinan akan dimulai lewat stablecoin.
  • Pernyataan ini disampaikan di Bitcoin Asia 2026 di Hong Kong, bahkan ketika antusiasme AI mulai membayangi narasi bullish kripto di ajang tersebut.

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, menyampaikan salah satu prediksi paling berani miliknya di Bitcoin Asia 2026 di Hong Kong, dengan menyebut Bitcoin bisa melampaui pentingnya emas sesegera siklus bull market berikutnya. "Saya rasa Bitcoin pasti akan menjadi lebih penting daripada emas," ujar Zhao dalam sesi bertajuk "The Bitcoin Century," seraya menambahkan bahwa pergeseran itu "bisa saja terjadi" pada siklus mendatang, bukan dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Coin Bureau, yang meneruskan pernyataan tersebut, mencatat cara Zhao membingkai kesenjangan kapitalisasi pasar saat ini: total nilai pasar emas masih sekitar sepuluh kali lebih besar daripada Bitcoin, kesenjangan yang menurut CZ memang telah menyempit secara berarti, tetapi tetap mewakili jarak signifikan yang harus ditempuh sebelum Bitcoin bisa secara masuk akal mengklaim gelar "lebih penting" dalam ukuran neraca mentah.

CZ Says Bitcoin Will Overtake Gold, But Not Without a Fight
Image via @coinbureau on X

Persoalan Institusional, Bukan Teknis

Yang membedakan komentar CZ dari retorika bullish pada umumnya adalah di mana ia menempatkan hambatannya. Alih-alih menunjuk teknologi Bitcoin, kurva adopsinya, atau pergerakan harganya, Zhao justru berargumen bahwa penghalang sesungguhnya adalah inersia institusional: pemerintah dan bank sentral besar sudah memiliki sistem matang untuk menilai, menyimpan, dan melaporkan cadangan emas, dan menggantikan perangkat itu dengan infrastruktur setara Bitcoin membutuhkan waktu bertahun-tahun, bukan sekadar satu siklus bull. Kerangka berpikir ini secara implisit mengakui bahwa Bitcoin tidak akan melampaui emas hanya lewat kenaikan harga semata—dibutuhkan pergeseran alokasi nyata di neraca negara, proses yang jauh lebih lambat dibanding price discovery di bursa.

Baca juga: CZ: Bitcoin $1 Juta Akan Terjadi 'Jauh Lebih Cepat' dari 25 Tahun

Konvergensi Kripto-AI Lewat Stablecoin

Zhao juga memanfaatkan kesempatan itu untuk membahas persimpangan yang kian ramai antara kecerdasan buatan dan kripto, dengan mengatakan kepada hadirin bahwa konvergensi kedua industri ini kemungkinan besar akan dimulai lewat stablecoin, bukan narasi token AI yang lebih spekulatif. Komentar ini muncul pada momen ketika, menurut South China Morning Post, ledakan AI justru turut menyedot perhatian dan modal menjauh dari narasi khas kripto di ajang-ajang seperti Bitcoin Asia, sehingga kerangka stablecoin dari CZ ini sama besarnya berfungsi sebagai pembelaan atas relevansi kripto maupun sebagai sebuah ramalan.

Apa yang Harus Terjadi Selanjutnya

Agar prediksi CZ beranjak dari sekadar retorika menjadi kenyataan, sinyal konkret berikutnya yang perlu dipantau adalah alokasi ke Bitcoin di level negara atau bank sentral, bukan sekadar pembelian ritel atau treasury korporasi yang sebetulnya sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Langkah diversifikasi cadangan resmi oleh bank sentral negara G20, sekecil apa pun, akan jauh lebih memvalidasi tesis "melampaui emas" ini dibanding sekadar kenaikan lanjutan harga Bitcoin dalam dolar. Binance milik Zhao sendiri membangun sebagian besar dominasi awalnya dengan menangkap arus trading ritel dan institusional, bukan menunggu adopsi negara, dan komentarnya menyiratkan ia masih memandang jalur bottom-up itu—stablecoin, volume bursa, treasury korporasi—sebagai rute yang lebih mungkin untuk menutup kesenjangan dengan emas, meski ia juga mengakui bahwa pemerintah sendiri tetap menjadi pihak yang paling lambat bergerak dalam hal ini.