Sorotan Utama
- Brent crude sempat menembus $90 per barel setelah AS menyerang peluncur roket Iran dekat Selat Hormuz.
- WTI naik 1,4% ke $84,57, Brent naik 1,5% ke $89,45, dan Murban crude melonjak 4% ke $95,75.
- Serangan itu menghantam posisi Iran di Pulau Larak, di dalam jalur air yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
- Wakil Presiden JD Vance kemudian bergerak untuk memperjelas retorika pemerintahan soal ancaman eskalasi lebih lanjut.
Harga minyak melonjak pada 31 Agustus 2026 setelah Amerika Serikat menyerang peluncur roket Iran yang ditempatkan dekat Selat Hormuz, menghidupkan kembali premi risiko geopolitik yang berulang kali menggerakkan pasar minyak mentah sepanjang tahun akibat konfrontasi AS-Iran. Coin Bureau melaporkan bahwa Brent crude sempat menembus $90 per barel secara intraday, dengan WTI naik 1,4% ke $84,57, Brent naik 1,5% ke $89,45, dan Murban crude — grade acuan UEA — melonjak lebih tajam 4% ke $95,75.
Apa yang Terjadi
Eskalasi terbaru ini berawal ketika pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak, posisi yang berada di dalam Selat Hormuz, titik strategis yang mengangkut sekitar 20% pengiriman minyak lewat laut dunia. Lalu lintas melalui selat ini terus terganggu sejak pertempuran dimulai, dan serangan terbaru ini justru menghidupkan kembali kekhawatiran gangguan pasokan lebih lanjut, bukannya meredakan ketegangan. Wakil Presiden JD Vance kemudian bergerak untuk menarik kembali pembingkaian yang lebih agresif dari ancaman-ancaman sebelumnya milik Presiden Trump, sebuah upaya mengelola ekspektasi pasar yang oleh pelaku pasar dianggap hanya sedikit melegakan mengingat serangan itu sudah terjadi lebih dulu. Data live Brent futures mengonfirmasi minyak mentah menahan sebagian besar kenaikannya sepanjang sesi, alih-alih berbalik arah setelah klarifikasi tersebut.
Baca juga: Arab Saudi Cari Pinjaman hingga $8 Miliar di Tengah Beban Perang Iran
Mengapa Ini Penting di Luar Harga per Barel
Premi risiko Hormuz yang berkepanjangan memberi efek jauh melampaui pompa bensin. Biaya energi yang lebih tinggi langsung memberi tekanan pada data inflasi yang tengah diawasi ketat oleh Federal Reserve, mempersulit kalkulasi arah suku bunga di saat pembuat kebijakan sudah terpecah soal seberapa agresif merespons tekanan harga. Harga bensin AS rata-rata sudah bertahan di atas $4 per galon setiap hari sepanjang Agustus, Agustus termahal di pompa bensin sepanjang catatan menurut data AAA — dinamika yang membuat risiko geopolitik tetap berada persis di tengah percakapan makro yang juga menggerakkan aset berisiko termasuk kripto, karena respons hawkish The Fed terhadap inflasi yang dipicu energi cenderung menekan pasar yang sensitif likuiditas secara luas.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Trader perlu memantau konfirmasi apakah lalu lintas pelayaran Hormuz benar-benar menyusut sebagai respons atas serangan ini, yang akan menjadi sinyal paling jelas dari guncangan pasokan yang genuine, bukan sekadar lonjakan yang dipicu berita utama. Aksi militer lanjutan dari AS maupun Iran di selat tersebut, ditambah data inflasi berikutnya yang menunjukkan apakah biaya energi yang lebih tinggi benar-benar merambat ke data harga yang lebih luas, kemungkinan akan menentukan apakah reli ini bertahan atau meredup seperti gejolak-gejolak sebelumnya sepanjang tahun ini.
FAQ
Mengapa harga minyak melonjak pada 31 Agustus?
AS menyerang peluncur roket Iran dekat Selat Hormuz, menghidupkan kembali kekhawatiran gangguan pengiriman minyak lewat jalur air yang mengangkut sekitar 20% minyak mentah dunia lewat laut.
Seberapa tinggi harga naik?
Brent sempat menembus $90 per barel; WTI naik 1,4% ke $84,57, Brent naik 1,5% ke $89,45, dan Murban crude melonjak 4% ke $95,75.
Apakah pemerintahan Trump menarik kembali retorikanya?
Wakil Presiden JD Vance kemudian bergerak memperjelas pernyataan Presiden Trump soal eskalasi lebih lanjut, meski harga sebagian besar tetap menahan kenaikannya meski sudah ada klarifikasi tersebut.
Mengapa ini penting bagi pasar kripto?
Tekanan inflasi yang berkepanjangan akibat minyak mempersulit kebijakan Federal Reserve, dan respons The Fed yang lebih hawkish cenderung membebani aset berisiko yang sensitif likuiditas, termasuk kripto, selain saham konvensional.
