Microsoft mendorong aplikasi OneDrive Photos baru ke perangkat Windows 11 lewat update sistem rutin, bukan sebagai unduhan yang bersifat opt-in, menurut laporan yang pertama kali diungkap oleh Windows Latest. Aplikasi ini hadir secara diam-diam melalui Windows Update atau update klien OneDrive, sehingga banyak pengguna baru menyadari aplikasi tersebut sudah terpasang alih-alih memilih untuk menambahkannya sendiri.
Setelah terpasang, OneDrive Photos secara otomatis mengindeks foto yang tersimpan secara lokal di PC — bahkan untuk pengguna yang tidak masuk ke akun Microsoft sekalipun. Aplikasi ini melapisi pencarian bertenaga AI di atas indeks tersebut, memungkinkan pengguna mencari gambar menggunakan kueri bahasa alami atau teks yang diekstrak dari foto lewat optical character recognition.
Fitur Pengelompokan Wajah
Penambahan yang lebih sensitif adalah fitur opsional “People” yang mengelompokkan foto berdasarkan kemiripan wajah, berfungsi mirip dengan alat penandaan wajah yang sudah lama tersedia di Google Photos atau aplikasi Photos milik Apple. Microsoft telah membangun sejumlah pengaman: menurut laporan tersebut, wajah hanya dapat dilihat oleh pengguna, tidak dibagikan ke pihak ketiga, dan dapat dihapus dengan menonaktifkan fitur ini sepenuhnya.
Meski begitu, fitur ini memerlukan persetujuan eksplisit (opt-in) di beberapa yurisdiksi mengingat bagaimana data biometrik — termasuk geometri wajah — diatur oleh hukum privasi di tempat-tempat seperti Illinois dan Uni Eropa. Persyaratan opt-in ini kemungkinan menjadi alasan mengapa fitur tersebut dikirim dalam kondisi nonaktif secara default, bukan langsung aktif begitu saja.
Tidak Bisa Dihapus Tanpa Menghapus OneDrive
Satu titik gesekan yang menonjol: OneDrive Photos tidak bisa dihapus instalasinya secara mandiri. Pengguna yang sama sekali tidak menginginkan aplikasi ini di perangkat mereka harus menghapus OneDrive dari Windows sepenuhnya untuk menyingkirkannya, langkah yang juga menonaktifkan sinkronisasi file cloud bagi siapa pun yang benar-benar menggunakan layanan tersebut.
Skema serba-atau-tidak-sama-sekali ini menggemakan kritik yang dihadapi Microsoft pada 2024, ketika fitur Recall berbasis AI-nya — yang terus-menerus mengambil tangkapan layar aktivitas pengguna untuk pencarian berbantuan AI di kemudian hari — menuai kritik yang cukup besar soal risiko privasi hingga perusahaan itu terpaksa merombaknya dan menjadikannya opt-in secara default alih-alih langsung aktif.
Bagian dari Pola yang Lebih Luas
Microsoft bukan satu-satunya yang diam-diam menyisipkan fitur AI ke dalam software yang sudah dimiliki pengguna. Google mengambil langkah serupa pada Mei lalu ketika mulai meluncurkan model AI Gemini Nano lewat update rutin browser Chrome, tanpa mengharuskan pengguna mencari sendiri kemampuan tersebut.
Pola ini mencerminkan bagaimana pemegang platform besar semakin memperlakukan peluncuran fitur AI sebagai update di belakang layar alih-alih peluncuran produk yang bersifat opt-in — sebuah pergeseran yang membebankan tanggung jawab kepada pengguna untuk menyadari kemampuan baru, memahami data apa yang tersentuh, dan memutuskan apakah akan tetap mengaktifkannya.