Sorotan

  • Aset tertokenisasi on-chain telah mencapai $346,1 miliar, menurut Token Terminal.
  • Stablecoin dolar AS sendiri menyumbang $298,5 miliar, atau 86,2% dari total.
  • Treasury AS tertokenisasi tumbuh menjadi $15 miliar, masih porsi kecil dari keseluruhan.
  • Saham tertokenisasi tetap jadi kategori terkecil yang dipantau, di angka $2,4 miliar, hanya 0,7% dari pasar.
  • Kategori RWA non-stablecoin secara gabungan kini mencapai sekitar $39,4 miliar.

Data terbaru Token Terminal menempatkan total nilai aset tertokenisasi on-chain di angka $346,1 miliar, sebuah figur yang didominasi habis-habisan oleh stablecoin yang dipatok ke dolar. Stablecoin dolar AS menyumbang sekitar $298,5 miliar dari total tersebut, atau 86,2% dari pasar, menyisakan setiap kategori aset tertokenisasi lainnya — treasury, strategi yield, kredit privat, emas, dan ekuitas — untuk berbagi sisa 13,8%. Treasury AS menjadi porsi non-stablecoin terbesar di sekitar $15 miliar (4,3%), disusul strategi yield di $10,5 miliar (3,0%), dana kredit di $6,4 miliar (1,8%), emas tertokenisasi di $5,1 miliar (1,5%), dan saham tertokenisasi di posisi buncit dengan hanya $2,4 miliar, atau 0,7% dari total. Rincian ini memberi gambaran real-time soal di mana tokenisasi benar-benar sudah mengakar dibanding di mana ia masih sekadar pembulatan angka.

Kenapa Stablecoin Masih Jauh Mengungguli yang Lain

Ketimpangan ini tidak mengherankan mengingat bagaimana kedua ujung pasar ini berkembang. Stablecoin sudah punya start satu dekade lebih dulu sebagai pengganti dolar on-chain default industri ini, dipakai untuk trading, settlement, dan pembayaran lintas negara jauh sebelum "tokenisasi real-world asset" menjadi tesis investasi tersendiri.

Treasury dan produk berbasis yield, sebaliknya, baru mulai berkembang secara berarti setelah money-market fund tertokenisasi membuktikan bahwa keuangan tradisional memang mau memegang instrumen berbasis blockchain dalam skala institusional — yang menjelaskan kenapa, bahkan di angka $15 miliar, Treasury masih sekitar seperduapuluh ukuran pasar stablecoin. Saham tertokenisasi berada di ujung paling tipis dari distribusi ini karena alasan berbeda: friksi regulasi. Tokenisasi ekuitas menarik jauh lebih banyak pengawasan dari regulator sekuritas dibanding token berbasis Treasury atau stablecoin mana pun, karena saham tertokenisasi langsung memunculkan pertanyaan soal hak suara, penyaluran dividen, dan apakah produk itu berfungsi sebagai sekuritas dengan cara yang sama seperti saham aslinya. Meski begitu, jika dijumlahkan, kategori non-stablecoin yang dilacak Token Terminal — Treasury, strategi yield, dana kredit, emas, dan ekuitas — kini mencapai sekitar $39,4 miliar, basis yang cukup berarti meski masih kalah jauh dibanding volume stablecoin.

Baca juga: Volume Perdagangan Saham Tokenisasi Cetak Rekor, Melonjak 800% Sepanjang 2026

Dua Cerita yang Bergerak dengan Kecepatan Berbeda

Bagi pasar secara lebih luas, angka $346,1 miliar ini paling pas dibaca sebagai dua cerita terpisah yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Stablecoin kini sudah menjadi infrastruktur finansial yang matang, dan pertumbuhannya sebagian besar mengikuti volume trading dan pembayaran kripto secara keseluruhan, bukan tesis tokenisasi baru apa pun. Sisa $47,6 miliar — Treasury, kredit, emas, dan ekuitas digabung — adalah bagian yang sebenarnya dimaksud investor dan issuer ketika mereka membicarakan "narasi RWA," dan bagian ini tumbuh dari basis yang jauh lebih kecil, sehingga kenaikan persentasenya terlihat jauh lebih dramatis meski nilai dolar absolutnya masih sederhana. Ekuitas tertokenisasi khususnya menjadi salah satu subsektor yang paling diawasi tahun ini, seiring platform yang dibangun khusus untuk trading saham tertokenisasi mendorong volume dan jumlah holder naik tajam, meski nilai total kategori ini masih sebagian kecil persen dari keseluruhan kue aset tertokenisasi. Kesenjangan antara volume yang tumbuh cepat dan nilai total yang masih kecil itulah yang membuat sektor ini kontroversial: kubu bullish menunjuk laju pertumbuhan sebagai bukti ekuitas tertokenisasi baru saja memulai, sementara skeptis mencatat $2,4 miliar adalah porsi yang bisa diabaikan, baik dibanding pasar stablecoin maupun pasar ekuitas global bernilai triliunan dolar yang ingin didisrupsinya.

Yang Perlu Dipantau Selanjutnya

Angka yang layak dipantau ke depan adalah seberapa cepat kategori non-stablecoin menutup kesenjangan dengan stablecoin dari segi persentase, meski total nilai dolar absolutnya kemungkinan tetap jauh berbeda selama bertahun-tahun. Lonjakan pada Treasury atau dana kredit tertokenisasi akan jadi sinyal uang institusional mulai memperlakukan rel on-chain sebagai lapisan settlement sungguhan, bukan sekadar use case stablecoin semata, sementara akselerasi berkelanjutan pada volume ekuitas tertokenisasi di platform semacam Robinhood Chain — sekecil apa pun basisnya — akan memperkuat tesis bahwa ini adalah sudut pasar dengan pertumbuhan tercepat. Update Token Terminal berikutnya, kapan pun itu terbit, akan menunjukkan apakah momentum saham tertokenisasi dan RWA di bulan September ini berlanjut atau mendingin seiring koreksi altcoin yang lebih luas pekan ini.

FAQ

Seberapa besar pasar aset tertokenisasi on-chain saat ini?
Token Terminal menempatkan totalnya di $346,1 miliar, meski sebagian besar — $298,5 miliar, atau 86,2% — adalah stablecoin dolar AS, bukan real-world asset tertokenisasi seperti obligasi atau saham.

Berapa persen pasar aset tertokenisasi yang berupa stablecoin?
Sekitar 86,2%, atau kira-kira $298,5 miliar dari total $346,1 miliar yang dilacak Token Terminal.

Apa kategori aset tertokenisasi terkecil yang dilacak?
Saham tertokenisasi, di sekitar $2,4 miliar, atau hanya 0,7% dari total pasar aset tertokenisasi.

Kenapa saham tertokenisasi tumbuh lebih lambat dibanding Treasury tertokenisasi?
Tokenisasi ekuitas menghadapi pengawasan regulasi yang lebih ketat dibanding token berbasis Treasury, karena pertanyaan soal hak suara dan penyaluran dividen membuat saham tertokenisasi jadi produk yang lebih diperdebatkan bagi regulator sekuritas.