Jensen Huang, CEO Nvidia, dikabarkan akan menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping, menurut laporan yang beredar Senin malam, menjelang kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat akhir bulan ini. Jamuan ini akan menjadi penampilan tingkat tinggi kedua Huang bersama kedua pemimpin negara pada 2026, setelah jamuan makan di Golden Room, Aula Besar Rakyat di Beijing, saat kunjungan kenegaraan Trump ke China pada Mei lalu — di mana Huang duduk semeja dengan Elon Musk, Tim Cook, dan Stephen Schwarzman.

Kali ini lokasinya berpindah ke Washington. Xi dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada 24 September, undangan yang disampaikan Trump saat kunjungannya sendiri ke Beijing bulan Mei. Xi diperkirakan akan datang membawa delegasi bisnis China dalam jumlah besar, langkah yang tergolong tidak biasa mengingat kewaspadaan Washington terhadap investasi korporasi China serta hubungan yang masih tegang antara Beijing dan sektor swastanya sendiri.

Hubungan yang Makin Dekat, tapi Juga Makin Rumit

Kehadiran Huang yang diperkirakan dalam jamuan tersebut muncul hanya sehari setelah ia menerima telepon dari Trump saat tampil di panggung All-In Summit di Los Angeles. Trump menelepon saat Huang sedang berada di atas panggung, dan Huang pun mengaktifkan mode speaker agar penonton bisa mendengar percakapan itu. Obrolan itu berkisar pada seruan CEO Anthropic, Dario Amodei, agar laju pengembangan AI diperlambat — posisi yang juga didukung Elon Musk dan Sam Altman. Trump langsung menepis kekhawatiran itu: “Kami tidak akan membiarkan itu terjadi. Itu bohong (hoax).” Huang pun langsung menyetujuinya di tempat: “Anda benar. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi, Pak.”

Chip, Daya Saing, dan Soal China

Percakapan itu menegaskan mengapa Huang terus muncul di meja yang sama dengan kedua presiden. Nvidia berada di pusat narasi persaingan AI AS-China yang selama ini dipakai Trump untuk membingkai berbagai kebijakan, mulai dari kontrol ekspor hingga laju pembangunan data center dalam negeri — meski survei menunjukkan mayoritas warga Amerika kini makin resah dengan keberadaan data center di lingkungan mereka karena kekhawatiran soal lingkungan dan biaya. Bagi Beijing, akses terhadap chip canggih Nvidia tetap menjadi salah satu dari sedikit alat tawar nyata yang tersisa dalam hubungan yang sebagian besar didominasi tarif dan pembatasan ekspor — salah satu alasan mengapa hubungan Nvidia yang kian meluas di industri AI terus menarik sorotan, jauh melampaui sekadar penjualan chip.

Baik Gedung Putih maupun Nvidia belum merinci daftar tamu atau agenda jamuan tersebut, dan cakupan delegasi eksekutif China yang akan menyertai Xi akhir bulan ini juga belum diumumkan. Namun kursi Huang yang diperkirakan ada di meja itu menempatkan Nvidia tepat di tengah kunjungan yang sudah dipantau pasar untuk mencari sinyal pergerakan kebijakan ekspor chip — perdebatan yang berjalan beriringan dengan argumen internal industri soal seberapa cepat pengembangan AI seharusnya melaju, salah satu dari sedikit faktor yang masih bisa secara signifikan mengubah proyeksi pendapatan China kedua perusahaan menjelang tahun depan.

Alasan Huang Terus Diundang ke Meja Perundingan

Akses Nvidia ke pelanggan China menjadi titik gesekan berulang sejak Washington pertama kali memperketat kontrol ekspor chip AI canggih awal dekade ini, dengan berbagai putaran pembatasan dan pengecualian yang menentukan seberapa banyak lini produk data center Nvidia yang bisa dibeli secara legal oleh pembeli di Beijing. Sepanjang 2026, Huang banyak menghabiskan waktu bolak-balik antara Washington dan Beijing untuk menyuarakan argumen bisnis menentang pengetatan pembatasan, dengan alasan menutup akses ke pasar China justru mempercepat dorongan Beijing menuju kemandirian chip, bukan memperlambatnya. Argumen itu mendapat sambutan cukup hangat dari Trump, yang perjalanannya ke China pada Mei menandai perubahan sikap pemerintahannya yang tak biasa terhadap bisnis Nvidia di China, dibandingkan sikap kontrol ekspor yang lebih ketat di tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Jensen Huang Klaim "AGI Sudah Tiba" Berkat Benchmark GPT-6 Astra

Bagi investor, undangan makan malam ini membawa sinyal yang lebih besar daripada sekadar foto formalitas. Kursi Huang di meja yang sama dengan dua kepala negara, dua kali dalam empat bulan, menunjukkan posisi langka Nvidia: perusahaan yang dianggap Washington sebagai kunci daya saing AI nasional, sekaligus tetap dianggap Beijing sebagai pemasok yang sulit digantikan. Sinyal apa pun yang muncul dalam jamuan 24 September — baik soal pelonggaran aturan ekspor maupun justru pengetatan — kemungkinan besar akan langsung menggerakkan saham Nvidia dan berdampak pada perdagangan semikonduktor secara lebih luas, jauh lebih cepat dibandingkan pengumuman kebijakan resmi. Itulah sebabnya para trader akan mencermati setiap detail yang bocor begitu daftar tamu dikonfirmasi.