Highlights
- Yield Treasury 10 tahun AS naik ke sekitar 4,81%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun, sementara selisih yield AS-China melebar ke rekor 312 basis poin.
- Mantan Perdana Menteri Inggris Liz Truss mengatakan pasar gilt Inggris mencerminkan "utang yang menumpuk dan devaluasi mata uang," dan memperingatkan kemungkinan pemangkasan belanja darurat.
- Grace Peters dari JPMorgan Private Bank mengatakan yield yang naik ke arah 5%-5,25% bisa memicu koreksi saham 5%-8%, meski ia menyebutnya sebagai koreksi sehat, bukan puncak struktural.
- Pergerakan serentak di pasar obligasi AS, Inggris, dan negara maju lain kembali menghidupkan perdebatan soal defisit fiskal dan devaluasi mata uang sebagai tema investasi utama.
Yield obligasi pemerintah di sejumlah ekonomi terbesar dunia melonjak ke level tertinggi dalam bertahun-tahun pada 2 September 2026, seiring investor terus menuntut kompensasi lebih besar untuk memegang utang negara yang menumpuk akibat bertahun-tahun defisit anggaran. Yield Treasury 10 tahun AS naik ke sekitar 4,81%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun, sementara data yang disorot akun komentar pasar Bull Theory menunjukkan selisih antara yield 10 tahun AS dan China melebar ke sekitar 312 basis poin — rekor tertinggi — karena yield China bertahan datar di dekat 1,69% meski The Fed terus melawan inflasi dengan suku bunga yang lebih tinggi.
Tekanan paling terasa di Inggris. Mantan Perdana Menteri Liz Truss mengatakan kepada CoinDesk bahwa gejolak pasar obligasi ini mencerminkan "utang dan devaluasi mata uang" di berbagai ekonomi utama, dengan Inggris sebagai salah satu yang paling rentan — yield gilt 10 tahunnya mendekati 5,2% dan yield 30 tahun mendekati 6%, level tertinggi dalam 18 tahun. Truss berargumen bahwa program quantitative easing Bank of England telah mengencerkan nilai mata uang, dan memperingatkan bahwa tanpa reformasi sisi penawaran untuk mendorong pertumbuhan lebih cepat, Inggris "bisa berujung pada pemangkasan belanja darurat yang dipaksakan."
Pandangan Wall Street: Koreksi Sehat, Bukan Puncak
Di Wall Street, kekhawatirannya lebih terukur namun tetap nyata. Grace Peters, co-head of global investment strategy di JPMorgan Private Bank, mengatakan kepada Bloomberg bahwa kenaikan yield 10 tahun ke arah 5% hingga 5,25% bisa membuka peluang koreksi 5% hingga 8% di pasar saham global menjelang peristiwa berisiko seperti pemilu sela November. Peters tetap memperkirakan penguatan lanjutan untuk saham AS dan Eropa tahun ini, dengan mencatat bahwa pertumbuhan laba kuartal kedua sekitar 30% di AS dan 15% di Eropa tersebar merata di sektor keuangan, industri, dan utilitas, bukan terkonsentrasi pada segelintir saham teknologi — basis laba yang menurutnya lebih luas dan lebih sehat dibanding kondisi pasar sebelum koreksi-koreksi sebelumnya.
Baca juga: Bessent Dukung Upaya Jepang Perkuat Yen Usai Bertemu Ueda di G20
Perdebatan Devaluasi Merambah Wacana Kripto
Kerangka fiskal-versus-mata-uang ini langsung merembet ke komentar seputar kripto. Dalam acara Crypto Banter, investor Anthony Pompliano berpendapat pemerintah hanya punya dua jalan: "perbaiki anggaran atau devaluasi mata uang," seraya menambahkan bahwa devaluasi menguntungkan pemilik aset sembari makin menekan mereka yang tidak memiliki aset, dinamika yang menurutnya memperlebar kesenjangan ekonomi berbentuk "K". Kerangka ini menjadi inti argumen bullish banyak investor kripto untuk bitcoin dan emas sebagai lindung nilai terhadap devaluasi, meski kedua aset tersebut sama-sama terkoreksi dari level tertinggi belakangan seiring aksi hindari risiko yang dipicu pasar obligasi secara luas.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Titik krusial berikutnya adalah anggaran Inggris pada 28 Oktober, di mana analis memperkirakan kondisi yield saat ini bisa memangkas ruang fiskal Menteri Keuangan sebesar £9 miliar hingga £14 miliar bahkan sebelum satu kebijakan baru pun diumumkan. Di AS, trader akan mengamati apakah dorongan yield 10 tahun ke arah 4,8%-5% memaksa The Fed mengambil sikap soal suku bunga, dan apakah skenario dasar Peters — koreksi terkendali 5%-8% — akan bertahan atau justru berubah menjadi sesuatu yang lebih tidak terkendali.
FAQ
Mengapa yield obligasi global naik bersamaan?
Kenaikan yield di AS, Inggris, dan negara lain mencerminkan kekhawatiran investor atas defisit anggaran pemerintah yang besar, penerbitan obligasi yang terus berlanjut, dan pembelian aset bank sentral yang oleh kritikus seperti Liz Truss disebut sebagai devaluasi mata uang.
Level yield berapa yang dianggap JPMorgan berisiko bagi saham?
Grace Peters dari JPMorgan menandai kisaran 5% hingga 5,25% pada yield Treasury 10 tahun sebagai titik di mana koreksi saham 5% hingga 8% menjadi lebih mungkin terjadi.
Apa yang diukur oleh selisih yield obligasi AS-China?
Selisih ini mengukur perbedaan antara yield obligasi pemerintah 10 tahun AS dan China, yang belakangan melebar ke rekor 312 basis poin seiring dinamika inflasi kedua negara yang berlawanan arah.
Apakah ini dianggap sebagai peringatan crash pasar saham?
Tidak. Peters menyebut potensi koreksi ini sebagai penyesuaian valuasi yang "sehat," bukan puncak struktural, mengingat pertumbuhan laba korporasi yang merata secara luas.
