Dua penambang Bitcoin yang tercatat di bursa saham, MARA dan Riot Platforms, sama-sama mengirim setoran baru ke kustodian NYDIG dalam rentang beberapa jam saja, menurut data on-chain dari Lookonchain. MARA, yang memegang 36.303 BTC senilai sekitar $2,34 miliar, menyetor 200 BTC ($12,86 juta), sementara Riot Platforms menambahkan 381 BTC ($24,51 juta) — total 581 BTC berpindah ke kustodian dalam satu waktu.

Setoran ke NYDIG sudah lama jadi indikator awal yang dipantau ketat di sektor penambangan, sebab penambang biasanya mengalirkan Bitcoin ke sana sebelum menjualnya untuk menutup biaya operasional atau membayar utang, alih-alih menyimpannya sebagai cadangan jangka panjang. Riot sendiri konsisten melakukan transfer serupa sepanjang 2026, termasuk setoran 500 BTC di awal tahun senilai sekitar $30 juta — bagian dari pola yang oleh pengamat industri disebut sebagai rentetan penjualan panjang, bukan kejadian sekali waktu.

Baca juga: Hampir 23% Mesin Penambangan Bitcoin Kini Merugi

MARA and Riot Send More BTC to NYDIG in Continued Sell Signal
Image via @lookonchain on X

Margin Jadi Pemicu Utama

Kedua penambang sama-sama melaporkan tekanan keuangan tahun ini, dan itu turut menjelaskan mengapa penjualan terus berlanjut. MARA mencatat kerugian $611 juta pada hasil kuartal kedua, dengan total kepemilikan Bitcoin turun 29% secara tahunan menjadi 35.577 BTC — bahkan sebelum setoran terbaru ini dihitung. Awal 2026, MARA sempat menjual lebih dari 15.000 BTC antara awal hingga akhir Maret, menghasilkan sekitar $1,1 miliar yang sebagian besar dipakai untuk membeli kembali surat utang konversi perusahaan. Riot, di sisi lain, mencatat total penjualan 2026 mencapai hampir 3.800 BTC senilai hampir $290 juta. Pola ini menunjukkan penambang publik makin memperlakukan cadangan Bitcoin mereka sebagai sumber pendanaan untuk mengelola utang, bukan lagi murni sebagai aset simpanan jangka panjang.

Lingkungan yang Makin Berat bagi Penambang Murni

Rentetan setoran ke NYDIG dari dua penambang publik terbesar ini sejalan dengan data industri yang lebih luas, yang menunjukkan tekanan keuangan kian meningkat di sektor penambangan — estimasi terbaru bahkan menyebut hampir seperempat mesin penambangan yang aktif kini beroperasi dalam kondisi rugi, mengingat tingkat kesulitan jaringan dan biaya listrik saat ini. Itu sebabnya sejumlah penambang, seperti Firmus, memilih mengalihkan infrastrukturnya sepenuhnya ke hosting AI ketimbang terus mengandalkan ekonomi penambangan semata. MARA dan Riot berbeda jalan — keduanya masih berkomitmen menambang dalam skala besar, dan memilih mengelola tekanan itu dengan terus mengonversi sebagian cadangan BTC mereka menjadi uang tunai.