Bits of Gold, broker kripto teregulasi terbesar di Israel, tengah menyelidiki dugaan kebocoran data pribadi yang berpotensi memengaruhi hingga 200.000 pelanggan, menurut media Israel Calcalist. Perusahaan ini memegang satu dari sembilan lisensi virtual asset service provider aktif yang diterbitkan oleh Capital Market Authority Israel, dan melayani sekitar 300.000 pelanggan terdaftar.
Informasi yang bocor dilaporkan mencakup nama lengkap, nomor identitas nasional, alamat email, alamat IP, dan nomor telepon. Bits of Gold menyatakan bahwa dana, koin, kata sandi akun, salinan dokumen identitas, dan detail kartu kredit tidak terdampak insiden ini.
Bagian dari Insiden Rantai Pasok Software yang Lebih Luas
Penilaian perusahaan adalah bahwa mereka tidak menjadi target langsung. Kebocoran ini justru bersumber dari kegagalan keamanan di sistem vendor software pihak ketiga yang digunakan Bits of Gold untuk alat dukungan pelanggan dan analisis data — pelanggaran yang dilaporkan juga berdampak pada perusahaan lain secara global, bukan hanya Bits of Gold. Begitu mengidentifikasi akses tak sah ke sistem dukungan tersebut, perusahaan langsung memblokir akses dan memutusnya dari sumber data yang mendasarinya.
Penanganan Tengah Berlangsung
Bits of Gold menyatakan tim keamanannya telah memulai peninjauan menyeluruh atas insiden ini, bekerja sama dengan firma luar yang mengkhususkan diri pada investigasi dan respons insiden siber, serta telah memberi tahu otoritas Israel yang berwenang. Hingga pengungkapan awal ini, perusahaan belum mengonfirmasi jumlah pasti pelanggan yang terdampak atau menyebutkan nama vendor pihak ketiga yang sistemnya telah diretas.
Baca juga: Jumlah Pemegang Saham Tokenisasi Dua Kali Lipat Jadi 1,31 Juta
Lisensi Regulasi Tak Berarti Kebal dari Risiko Vendor
Insiden ini menegaskan satu perbedaan yang tak sepenuhnya tercakup oleh lisensi regulasi: lisensi VASP mengatur bagaimana sebuah perusahaan menangani dana pelanggan dan mematuhi aturan finansial, bukan postur keamanan setiap vendor pihak ketiga yang terhubung ke tumpukan layanan dukungannya. Platform kripto dari berbagai jenis — mulai dari penerbit aplikasi mobile hingga pembuat hardware wallet — kian sering mendapati bahwa titik lemah keamanan mereka bukan terletak pada produk inti mereka sendiri, melainkan pada perangkat layanan pelanggan dan analitik biasa yang membungkusnya.