Highlights
- Estimasi total permintaan Bitcoin 30 hari versi CryptoQuant turun ke -171.000 BTC.
- Permintaan futures ambruk dari 164.000 BTC menjadi hanya 3.000 BTC.
- Permintaan spot tertahan di -174.000 BTC meski inflow ETF sedang deras.
- Harga BTC tetap naik dari $74.000 ke $84.000 dalam 15 hari terakhir.
Bitcoin sudah bertambah $10.000 dalam dua pekan. Tapi menurut salah satu analis CryptoQuant yang paling banyak diikuti, pembeli yang biasanya menggerakkan kenaikan sebesar itu justru tidak kelihatan.
Dalam catatan yang dirilis Minggu, kontributor CryptoQuant Darkfost menulis bahwa permintaan Bitcoin “tidak membaik, malah makin melemah.” Angka di baliknya cukup mencolok. Permintaan futures, yang mengukur tekanan beli bersih dari trader derivatif, turun dari 164.000 BTC menjadi cuma 3.000 BTC. Permintaan spot masih jauh di zona negatif, yakni -174.000 BTC. Jika digabung, estimasi kumulatif total permintaan 30 hari kini berada di -171.000 BTC.
Harga bergerak ke arah sebaliknya. Dalam 15 hari terakhir BTC naik dari sekitar $74.000 ke kisaran $84.000, salah satu reli paling tajam sejak titik terendah musim panas.
Bagaimana harga bisa naik saat permintaan turun?
Metrik permintaan CryptoQuant bukan hitungan jumlah order beli. Metrik ini memperkirakan berapa banyak Bitcoin yang diserap market dibandingkan jumlah yang dilepas holder jangka panjang, dalam jendela bergulir 30 hari. Angka negatif berarti koin yang masuk ke market lebih banyak ketimbang yang bisa diserap permintaan baru.
Dalam kondisi seperti itu, harga tetap bisa naik asalkan tekanan jual mereda lebih cepat daripada melemahnya daya beli. Darkfost sebelumnya menggambarkan stabilitas Bitcoin sebagai hasil dari kelelahan penjual: holder yang ingin keluar sebagian besar sudah pergi, sehingga bid yang tipis pun bisa menggerakkan harga. Reli jenis ini nyata. Namun rapuh, karena bergantung pada penjual yang tetap diam, bukan pada masuknya uang baru.
Trennya pun memburuk, bukan membaik. Dua setengah pekan lalu, tepatnya 11 September, Darkfost melaporkan permintaan spot turun 145.000 BTC dalam 30 hari, sementara permintaan futures hanya naik 74.500 BTC. Saat itu Bitcoin diperdagangkan di dekat $77.200. Sejak catatan tersebut, komponen futures merosot dari positif tipis menjadi nyaris nol, dan lubang di sisi spot bertambah dalam sekitar 29.000 BTC lagi.
Baca juga: Bitcoin Ambruk ke Bawah $84 Ribu, Yield Obligasi Tembus Puncak Sejak 2007
ETF dan Binance bercerita lain
Di sinilah gambarannya jadi rumit. Aliran dana institusional sama sekali tidak lemah. ETF spot Bitcoin AS menyerap $998,95 juta pada 21 September, inflow harian terbesar sejak Oktober 2025. Rentetan inflow itu juga sempat mendorong BTC menembus $87.000. Per 24 September, inflow masih positif meski sudah mendingin ke $190,65 juta.
Data exchange mengarah ke hal yang sama. Pada 25 September, lebih dari 13.800 BTC keluar dari Binance dalam sehari, outflow bersih terbesar di exchange itu sejak 2023 dan jauh di atas outflow sekitar 9.000 BTC pada akhir Juli. Cadangan Binance turun dari sekitar 705.000 BTC ke 685.000 BTC hanya dalam empat hari. Mengingat Binance memegang kira-kira 30% Bitcoin yang tersimpan di exchange yang bisa diakses investor, penurunan ini berarti pasokan siap jual berkurang cukup signifikan. Darkfost juga membaca penarikan tersebut sebagai kemungkinan gelombang FOMO dari pembeli yang terlambat masuk dan memindahkan koinnya ke self-custody.
Lalu mengapa permintaan spot masih negatif? Kemungkinan besar pembelian ETF dan penarikan ke cold storage diimbangi distribusi di tempat lain, terutama dari koin-koin lama yang kembali beredar. Bid dari ETF memang besar, tapi belum cukup untuk membalik neraca 30 hari seorang diri. Tanpa bantuan dari pasar futures, angka agregat tetap merah.
Mengapa ambruknya futures penting
Perubahan paling tajam justru terjadi di sisi derivatif. Penurunan dari 164.000 BTC ke 3.000 BTC artinya trader leverage hampir sepenuhnya berhenti menambah eksposur long bersih. Efeknya dua arah. Leverage yang lebih kecil berarti makin sedikit posisi yang bisa terpaksa ditutup dalam satu rentetan likuidasi. Di seluruh market kripto, sekitar $270 juta terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, angka yang tergolong kecil dibanding short squeeze lebih dari $1 miliar yang ikut mendorong sebagian reli sebelumnya.
Di sisi lain, hilangnya pembelian futures juga mencabut salah satu mesin yang biasanya membawa reli menembus resistance. Tanpa tambahan beli di futures, dorongan ke atas pertengahan $80.000-an harus datang hampir seluruhnya dari arus spot dan ETF. Menurut ukuran CryptoQuant, keduanya belum cukup kuat untuk menutup pasokan.
Yang perlu dicermati
Divergensi ini tidak akan bertahan selamanya. Entah permintaan menyusul harga, atau harga yang kembali turun mendekati permintaan. Ada tiga sinyal yang akan menunjukkan arahnya. Pertama, apakah inflow ETF kembali melaju dari kisaran $190 juta per hari ke hari-hari bernilai $1 miliar seperti awal bulan ini. Kedua, apakah outflow dari Binance berlanjut dan bukan sekadar lonjakan satu hari. Ketiga, apakah permintaan futures kembali positif secara berarti.
Analis yang menilai bear market sudah berakhir lewat breakout moving average 50 minggu memang didukung grafik. Namun untuk saat ini, data permintaan CryptoQuant menunjukkan reli tersebut belum menemukan basis pembeli luas yang biasanya mengonfirmasi tren baru.
FAQ
Mengapa permintaan Bitcoin negatif padahal harganya naik?
Metrik permintaan CryptoQuant membandingkan pembelian baru dengan koin yang dilepas holder. Harga bisa naik saat neraca itu negatif jika tekanan jual memudar lebih cepat daripada daya beli, kondisi yang oleh Darkfost dikaitkan dengan kelelahan penjual.
Seberapa jauh permintaan futures Bitcoin turun?
Menurut Darkfost, permintaan futures turun dari 164.000 BTC menjadi hanya 3.000 BTC, sementara permintaan spot berada di -174.000 BTC, sehingga total permintaan 30 hari menjadi -171.000 BTC.
Apakah rekor outflow Binance bertentangan dengan data permintaan yang lemah?
Tidak sepenuhnya. Outflow 13.800 BTC dalam sehari pada 25 September menunjukkan sebagian investor memindahkan koin ke self-custody, tetapi menurut ukuran CryptoQuant, pembelian itu bersama inflow ETF belum mampu mengimbangi pasokan yang kembali ke market.
