Harga minyak mentah kehilangan kenaikan intraday 3% hanya dalam sekitar setengah jam pada Senin, setelah seorang pejabat AS menyebut Presiden Donald Trump siap melonggarkan sanksi terhadap Iran dan mencairkan aset-asetnya yang dibekukan, asalkan ada pergerakan dalam program nuklir Teheran. Harga lalu turun lebih dalam ketika stasiun televisi milik Saudi, Al Hadath, melaporkan Iran telah setuju menghentikan pengayaan uranium sebagai imbalan atas keringanan tersebut.

Sampai berita ini ditulis, baik Washington maupun Teheran belum mengonfirmasi laporan Al Hadath secara terbuka. Trader tetap saja melepas posisi.

Pernyataan pejabat tadi sebenarnya cukup terbatas. Trump bersedia memberi keringanan sanksi dan melepas dana yang dibekukan jika ada “kemajuan konkret” dalam isu nuklir. AS, katanya, sedang menjalin diskusi yang positif dan konstruktif lewat mediator, tetapi tidak akan ada kesepakatan selama persoalan nuklir belum tuntas. Pesan yang pada dasarnya sama juga disampaikan seorang pejabat Gedung Putih kepada CNN.

Pembalikan tajam di layar harga

Waktunya membuat pergerakan ini terasa lebih tajam. Di awal sesi, minyak mentah sempat naik lebih dari 4% ke atas $96 per barel, menutup penurunan 2,3% di sesi sebelumnya karena ketidakpastian diplomasi AS-Iran membuat risiko pasokan tetap diperhitungkan. West Texas Intermediate menyentuh level tertinggi $96,54, sementara Brent mencapai $108,83.

Begitu kabar soal sanksi muncul, WTI turun sekitar 3,6% dalam 30 menit dan menghapus seluruh kenaikan hariannya, kembali mendekati level pembukaan. Reli itu sebenarnya sudah tergerus lebih dulu oleh laporan bahwa Arab Saudi menambah aliran lewat pipa East-West setelah perbaikan, sebelum berita Iran datang.

Indikator makro lain ikut bergerak. Indeks Dolar AS memangkas kenaikan 0,20% sebelumnya dan diperdagangkan di dekat 101,12. Emas memantul dari sekitar $4.110 ke $4.136, meski masih turun lebih dari 3,45% hari itu.

Posisi perundingan sebenarnya

Kabar Senin ini datang di tengah negosiasi yang 48 jam sebelumnya masih tampak buntu. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memaparkan peta jalan tujuh hari di New York. Dalam rencana itu, Washington akan melepas aset Iran yang dibekukan, diperkirakan tidak kurang dari $12 miliar, mencabut sanksi atas penjualan minyak Iran, dan mengakhiri blokade lautnya. Selat Hormuz kemudian dibuka kembali di hari terakhir periode tersebut.

Trump menolaknya pada 26 September. Kesepakatan itu “tidak bisa diterima”, katanya, tanpa penjelasan lebih lanjut. Pokok perselisihannya ada di urutan langkah: Teheran ingin blokade dan sanksi minyak dicabut dulu sebelum bergerak, sedangkan Washington menuntut langkah nuklir yang bisa diverifikasi lebih dulu.

Qatar banyak mengambil peran di balik layar. Negara itu mengatur pertemuan antara Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Araghchi di sela Sidang Umum PBB pada 22 September, dan kedua pihak memperkirakan perundingan tidak langsung melalui mediator Qatar bisa berlanjut paling cepat Senin ini.

Baca juga: Krisis Solar Kerek Harga BBM AS Lewati $6, The Fed Timbang Kenaikan Bunga Lagi

Karena itulah laporan Al Hadath begitu penting, sekaligus patut disikapi hati-hati. Sepanjang tahun ini, pengayaan uranium adalah garis merah Iran. Pada Februari, Teheran sempat menawarkan jeda pengayaan hingga tiga tahun dan mengirim sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri, tetapi tidak sampai menghentikan total seperti yang dituntut Trump. Araghchi pun bersikeras bahwa kesepakatan baru apa pun harus menjamin hak Iran melakukan pengayaan untuk tujuan damai. Kesepakatan untuk menghentikan pengayaan sepenuhnya akan menjadi perubahan sikap yang nyata. Hal itu juga persis memberi Gedung Putih “kemajuan konkret” yang disebut pejabatnya.

Kenapa premi minyak bisa cepat menguap

Aliran fisik sebenarnya sudah membaik sebelum Senin. Volume tanker yang melintasi Selat Hormuz menembus 20 juta barel selama akhir pekan, terbanyak sejak konflik dimulai. Kesepakatan yang mencabut sanksi minyak dan blokade akan menambah barel ekspor Iran di atas pemulihan itu. Tidak heran sejumlah komentator pasar pada Senin menilai premi perang di harga minyak bisa lenyap dengan cepat bila perundingan bertahan.

Bagi konsumen AS yang sudah membayar lebih dari $6 per galon di SPBU, premi tersebut langsung merembes ke ekspektasi inflasi. Minyak di kisaran $100 menjadi salah satu pemicu aksi jual obligasi pada Senin. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke 5,27%, tertinggi dalam 19 tahun dan sekitar 135 basis poin di atas titik terendahnya enam bulan lalu. Nasdaq 100 sempat turun hingga 1,6%, sementara S&P 500 kehilangan nilai pasar hampir $700 miliar.

Menurut ekonom Capital Economics James Reilly, aksi jual Treasury lebih disebabkan harga minyak yang tinggi dan ekonomi yang kuat ketimbang penerbitan utang terkait AI atau kekhawatiran fiskal. Ia memperkirakan yield 10 tahun akan turun “tajam” ke 4,25% pada akhir 2027, dengan asumsi Federal Reserve bakal mengetatkan kebijakan lebih sedikit dari perkiraan investor saat ini. Minyak yang lebih murah akan memperkuat argumen itu, apalagi menjelang pekan ketika data PCE dan payrolls bisa mengunci kenaikan suku bunga Oktober.

Kripto ikut kebagian angin segar

Aset berisiko yang sempat tertekan kenaikan yield akhirnya bisa bernapas. Bitcoin kembali ke atas $84.000, diperdagangkan di sekitar $84.038 atau naik sekitar 0,8% hari itu, setelah sebelumnya tergelincir di bawah level tersebut saat yield naik ke titik tertinggi sejak 2007. Ether menembus $2.700.

Kenaikannya tipis, dan daya tahannya bergantung penuh pada diplomasi di belakangnya. Titik pantau berikutnya sudah jelas: tanggapan resmi Teheran atas laporan Al Hadath, hasil putaran perundingan yang dimediasi Qatar, dan apakah Washington merinci apa yang dimaksud dengan “kemajuan konkret”. Sampai salah satunya datang, minyak masih diperdagangkan berdasarkan headline, belum berdasarkan kesepakatan.