Highlights

  • Yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun melonjak ke 3,055%, level tertinggi sejak Agustus 1996
  • Bursa Osaka sempat menghentikan sementara perdagangan kontrak berjangka obligasi pemerintah jangka panjang setelah circuit breaker terpicu
  • Indeks Nikkei 225 naik 1,8% pada sesi yang sama, menambah sekitar ¥21,2 triliun atau sekitar $135 miliar nilai pasar
  • Pergerakan ini mengikuti aksi jual obligasi pemerintah global yang lebih luas dan yen yang melemah, yang memicu kekhawatiran inflasi

Pasar obligasi Jepang sempat mengalami gejolak pekan ini setelah yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melonjak ke 3,055%, level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Lonjakan ini memaksa Bursa Osaka memicu dynamic circuit breaker dan menghentikan sementara perdagangan kontrak berjangka obligasi pemerintah jangka panjang.

Yield tersebut naik sekitar 7 basis poin dalam satu sesi, dari 2,985% menjadi 3,055%, level yang belum pernah terlihat sejak Agustus 1996. Pergerakan ini mengikuti aksi jual yang lebih luas di pasar utang pemerintah global, dengan yield Treasury AS juga tertekan, sementara yen yang melemah menambah kekhawatiran bahwa inflasi impor bisa memaksa Bank of Japan mempercepat pengetatan kebijakan lebih cepat dari yang sudah diperhitungkan pasar. Di AS sendiri, yield Treasury 5 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 pada pekan yang sama, tanda bahwa seluruh kurva yield global sedang direset lebih tinggi secara bersamaan.

Yield yang naik biasanya menekan valuasi saham karena menaikkan discount rate yang diterapkan pada laba korporasi di masa depan, tapi saham Jepang justru bergerak ke arah sebaliknya pada hari yang sama. Indeks Nikkei 225 naik 1,8%, menambah sekitar ¥21,2 triliun atau kurang lebih $135 miliar kapitalisasi pasar. Pola serupa juga terlihat di aset berisiko lain sepanjang tahun ini, di mana investor berulang kali mengabaikan kenaikan bunga selama ekspektasi pertumbuhan dan laba tetap cukup kuat untuk mengimbangi biaya modal yang lebih tinggi.

Rebound ini juga terjadi setelah bulan yang bergejolak bagi saham Jepang. Nikkei sempat dibuka pada awal September di sekitar ¥66.215 sebelum merosot ke sekitar ¥63.484 pertengahan bulan, lalu kembali naik di atas ¥65.000 pada hari-hari berikutnya. Momentum ini datang tak lama setelah Nikkei sempat ambruk 3,1% dan melenyapkan $232 miliar nilai saham Jepang dalam sesi lain, sehingga lonjakan pekan ini memperpanjang pemulihan tersebut meski gejolak di pasar obligasi memunculkan pertanyaan baru soal seberapa jauh saham bisa terus naik jika biaya pinjaman terus meningkat.

Baca juga: BOJ Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi 31 Tahun, Nikkei Tambah $150 Miliar

Aksi jual obligasi ini merupakan bagian dari repricing utang jangka panjang secara global yang juga berimbas ke pasar terkait kripto. Bitcoin sempat ambruk ke bawah $84.000 pekan ini seiring yield Treasury AS naik ke level tertinggi sejak 2007, dan kekuatan yang sama yang mendorong yield Jepang naik, yakni tekanan inflasi yang persisten dan penerbitan obligasi pemerintah dalam jumlah besar, kini terlihat di hampir semua pasar obligasi utama sekaligus. Pasar saham di tempat lain justru terus menanjak meski ada tekanan ini, mengindikasikan investor untuk saat ini menganggap yield yang lebih tinggi sebagai tanda kekuatan ekonomi, bukan alasan untuk melepas aset berisiko.

Khusus untuk Jepang, circuit breaker yang terpicu akibat lonjakan yield ini menegaskan betapa sensitifnya pasar obligasi negara itu setelah puluhan tahun suku bunga mendekati nol. Bank of Japan menghabiskan bertahun-tahun menekan yield lewat pembelian langsung dan kontrol kurva yield, dan proses melepas rezim tersebut membuat pasar lebih rentan terhadap pergerakan tajam dan mekanis begitu yield melewati level psikologis penting seperti 3%. Yield 3% pada obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun nyaris mustahil terbayangkan selama sebagian besar tiga dekade terakhir, saat negara itu masih bergulat dengan deflasi, bukan inflasi yang kini mendorong biaya pinjaman naik.

Pelemahan yen memperparah masalah ini. Mata uang yang lebih lemah menaikkan biaya impor energi dan pangan, memicu dinamika inflasi yang sama yang justru mendorong yield naik sejak awal, dan menciptakan tekanan bagi Bank of Japan untuk merespons meski suku bunga yang lebih tinggi berisiko menambah beban biaya utang pemerintah pada salah satu tumpukan utang negara terbesar di dunia.

Investor kini menanti apakah ketahanan Nikkei akan bertahan jika yield terus naik ke level yang bisa benar-benar menaikkan biaya pinjaman bagi korporasi Jepang, atau apakah lonjakan bersamaan saham dan yield pekan ini hanya akan menjadi decoupling sementara, bukan pola baru.