Harga minyak naik sekitar 3% setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan drone ke kilang Jazan milik Saudi Aramco — serangan kedua kelompok tersebut ke fasilitas yang sama dalam kurang dari sepekan. Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi kebakaran terjadi di kilang tersebut menyusul serangan itu.
Fasilitas Jazan, dengan kapasitas pengilangan sekitar 400.000 barel per hari, sebelumnya sudah berhenti beroperasi sejak serangan pertama beberapa hari lalu, dengan rencana operasi kembali awalnya diperkirakan pada Agustus — jadwal yang kini semakin tidak pasti setelah serangan susulan ini.
Guncangan Lebih Besar Terjadi Beberapa Hari Sebelumnya
Serangan Houthi pertama ke kilang tersebut, yang menurut laporan Bloomberg sulit dikendalikan sepenuhnya oleh Riyadh, memicu reaksi harga yang jauh lebih besar dibanding serangan susulan pada hari Rabu itu: harga futures minyak acuan melonjak hingga $11,73 per barel menjadi $71,95 dalam hitungan jam setelah serangan pertama tersebut — digambarkan saat itu sebagai kenaikan terbesar dalam nilai dolar sepanjang sejarah kontrak tersebut sejak 1988. Fakta bahwa serangan kedua ke target yang sama hanya sepekan kemudian hanya memicu pergerakan yang relatif lebih kecil sebesar 3% menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah memperhitungkan kemungkinan besar gangguan berlanjut di fasilitas tersebut, bukan memperlakukannya sebagai peristiwa satu kali.
Serangan berulang ke kilang yang sama juga mempersulit jadwal perbaikan Arab Saudi dengan cara yang tidak akan terjadi jika hanya ada satu insiden: setiap serangan baru berisiko mengulang kemajuan yang sudah dicapai dalam memulihkan output fasilitas tersebut, sehingga memperpanjang periode kapasitas itu absen dari pasar global.
Baca juga: ETF Bitcoin Catat Outflow $131 Juta meski Saham Cetak Rekor
Bagian dari Pola Serangan yang Lebih Luas ke Infrastruktur Energi Teluk
Serangan-serangan di Jazan ini adalah yang terbaru dari rentetan serangan Houthi ke infrastruktur energi Arab Saudi tahun ini, bagian dari keterlibatan berkelanjutan kelompok tersebut dalam konflik regional yang lebih luas. Bagi pasar minyak, serangan berulang dan berhasil ke fasilitas pengilangan besar berdampak berbeda dibanding insiden tunggal yang terisolasi — serangan semacam ini menandakan bahwa pertahanan udara Arab Saudi belum mampu sepenuhnya melindungi fasilitas yang secara strategis penting, bahkan setelah serangan pertama membuatnya berstatus siaga tinggi, yang cenderung membuat premi risiko geopolitik tetap tertanam dalam harga lebih lama dibanding guncangan satu kali.