Seorang pengguna kripto kehilangan 1.010 ETH setelah mengklik tautan bookmark lama yang ternyata mengarahkannya ke situs phishing yang menyamar sebagai Tornado Cash, dan situs itu justru bercokol di domain resmi protokol privasi tersebut yang sudah kedaluwarsa. Menurut laporan komunitas, korban meyakini dirinya sedang berinteraksi dengan frontend resmi tornado.cash, padahal domain itu sudah tidak diperpanjang dan telah diambil alih oleh pelaku kejahatan.
Mekanisme serangannya sederhana namun berdampak fatal: frontend palsu tersebut merekam kredensial deposit milik korban, yang kemudian digunakan pelaku untuk menarik dana sebelum memindahkannya melalui beberapa alamat guna mengaburkan jejak. Berdasarkan penelusuran on-chain terbaru, aset curian itu masih berada di bawah kendali pelaku.
Akar masalahnya berkaitan dengan sejarah hukum Tornado Cash. Setelah smart contract protokol ini disanksi oleh OFAC Departemen Keuangan AS pada 2022, memelihara infrastruktur resmi — termasuk hal sesederhana memperpanjang domain — menjadi rumit secara hukum maupun praktis bagi protokol yang tidak lagi memiliki operator jelas. Smart contract yang mendasarinya tetap berjalan lewat titik akses terdesentralisasi seperti IPFS dan gateway ENS, namun banyak pengguna masih menyimpan bookmark bertahun-tahun lalu yang mengarah ke domain utama yang lama — dan justru itulah yang membuat korban ini terjebak. Pergerakan dana curian tersebut masih bisa dilacak on-chain lewat Etherscan.
Bagian dari lonjakan kembali kerugian akibat phishing
Baca juga: AS Dakwa 17 Hacker Iran atas Pemerasan Bitcoin $6 Juta, Pencurian Data Universitas
Insiden ini terjadi di tengah pembalikan tajam tren phishing. Kerugian akibat wallet-drainer sempat turun ke sekitar $83,85 juta sepanjang 2025 — anjlok 83% dari tahun sebelumnya — namun hanya di bulan Januari 2026 saja, kerugian phishing sudah menembus $300 juta, sebagian besar didorong oleh satu kasus pencurian senilai $284 juta dari seorang investor yang tertipu hingga membocorkan frasa pemulihan (recovery phrase) hardware wallet-nya. Peneliti keamanan menyebut pergeseran ini sebagai tren “whale hunting”, di mana pelaku kejahatan meninggalkan kampanye massal yang menyasar banyak wallet kecil, dan beralih ke target yang lebih sedikit namun jauh lebih besar.
Apa yang ditegaskan insiden ini bagi pengguna
Protokol yang tersanksi atau tengah bermasalah secara hukum punya versi risiko tersendiri: tanpa perusahaan yang aktif memelihara kehadiran situs resminya, domain yang kedaluwarsa bisa tergeletak tanpa pemilik sampai akhirnya didaftarkan ulang oleh pelaku kejahatan. Praktisi keamanan umumnya menyarankan untuk mengakses frontend terdesentralisasi lewat tautan IPFS atau ENS yang baru diverifikasi, alih-alih mengandalkan bookmark browser lama — terutama untuk protokol mana pun yang status pemeliharaan resminya tidak jelas.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa risiko phishing di dunia kripto tidak selalu butuh bug smart contract atau peretasan exchange — kadang celahnya sesederhana bookmark usang yang mengarah ke infrastruktur yang sudah tidak ada yang memperpanjang lagi.